Sumbar

Kilau Emas di Tengah Ketidakpastian: Aman, Tetapi Bukan Satu-Satunya Jawaban

Ferdinan | 23 Juni 2026, 15:09 WIB
Kilau Emas di Tengah Ketidakpastian: Aman, Tetapi Bukan Satu-Satunya Jawaban
Prof. Dr. Hesi Eka Puteri., SE., M.Si Guru Besar Ekonomi Keuangan UIN Bukittinggi

Kilau emas selalu tampak paling terang ketika langit ekonomi terlihat mendung, sehingga tidak mengherankan jika masyarakat berbondong-bondong mengalihkan kekayaan mereka  ke logam mulia ini.

Yang diburu lebih dari sekadar nilainya adalah ketenangan dan rasa aman. Namun, di balik antrean pembelian emas, ada pertanyaan yang perlu diajukan secara lebih jernih:

Apakah kondisi ekonomi benar-benar sedemikian mengkhawatirkan, ataukah kepanikan tersebut lahir dari persepsi risiko yang berlebihan?

Emas memang dapat menjadi pelindung nilai, tetapi menjadikannya satu-satunya jawaban justru berpotensi membuat Anda kehilangan peluang untuk berinvestasi secara produktif pada alternatif lain.

Kenapa masyarakat memburu emas?

Ketidakpastian ekonomi, isu geopolitik global, ketegangan di Timur Tengah, volatilitas pasar keuangan, fluktuasi nilai tukar rupiah, arah kebijakan ekonomi yang tidak jelas, ditambah sejumlah pernyataan pejabat yang  kerap memunculkan kontroversi, sukses menjadi kombinasi sempurna dalam membentuk kecemasan ekonomi masyarakat.

Situasi tersebut menciptakan dorongan psikologis yang kuat untuk mencari aset yang dianggap paling aman, dan emas menjadi jawabannya.

Emas digital, emas fisik, hingga emas perhiasan seolah-olah berubah menjadi instrumen pelarian untuk melindungi nilai kekayaan di tengah ketidakpastian.

Kecemasan kolektif mendorong harga emas terus menanjak sepanjang semester I 2026, hingga mencapai rekor tertinggi  Rp3,17 juta per gram untuk emas Antam . Kenaikan ini tentu tidak semata-mata disebabkan oleh tingginya permintaan domestik.

Di pasar global, harga emas juga sempat mencetak rekor baru hingga menembus US$5.300 per troy ounce sebelum terkoreksi sekitar 20 persen.

Pada saat yang sama, IHSG sempat merosot ke level 6.000 pada pertengahan Juni 2026, sementara nilai tukar rupiah sempat tertekan hingga Rp18.000 per dolar AS.

Di tingkat global, banyak bank sentral meningkatkan cadangan emas mereka sebagai langkah antisipatif menghadapi potensi perlambatan ekonomi dunia.

Memanasnya situasi di Timur Tengah semakin memperkuat persepsi bahwa aset-aset berisiko perlu dikurangi dan emas menjadi pilihan yang lebih aman.

Menariknya, kepanikan tersebut tidak selalu sejalan dengan indikator fundamental ekonomi Indonesia yang relatif baik. Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 sebesar 5,61 persen (year-on-year).

Dalam praktiknya, persepsi pasar sering kali lebih dipengaruhi oleh ekspektasi dan sentimen daripada data makro semata.

Kejatuhan IHSG dan pelemahan rupiah menjadi sinyal yang lebih mudah ditangkap investor dan mendorong sebagian investor asing untuk angkat kaki dari Indonesia.

Baca Juga: IHSG Diprediksi Konsolidasi, Investor Tunggu Keputusan MSCI soal Status Pasar Indonesia

Kembali pada pertanyaan utama: “Mengapa masyarakat tetap berburu emas” meski harganya sedang di pucuk? Jawabannya sederhana.

Perilaku investasi tidak hanya ditentukan oleh perhitungan rasional berbasis data ekonomi, tetapi juga oleh persepsi terhadap risiko.

Ketika masyarakat terus-menerus disuguhi berita tentang perang, ketidakpastian global, gejolak pasar keuangan, serta komunikasi dan kebijakan pemerintah yang terkadang dinilai tidak pro rakyat, respons yang kemudian muncul cenderung bersifat defensif.

Emas bukan sekadar komoditas, melainkan representasi rasa aman yang diyakini mampu menjaga nilai kekayaan ketika kondisi diprediksi akan semakin memburuk.

Ketika Rasa Aman Menjadi Prioritas, Emas adalah Safe Haven

Alasan utama masyarakat memburu emas adalah statusnya sebagai safe haven asset, yaitu instrumen keuangan yang cenderung dianggap aman dan mampu mempertahankan nilainya ketika instrumen lain mengalami tekanan.

Kepercayaan terhadap emas sebagai safe haven tidak hanya di kalangan individu, melainkan juga di kalangan bank sentral di seluruh dunia yang sejak dulu mengamankan cadangan emas mereka.

Alasan yang paling sering dikemukakan adalah kemampuan emas untuk mempertahankan nilainya saat terjadi krisis ekonomi.

Bagi masyarakat Indonesia, daya tarik emas sudah mengakar dalam perilaku keuangan dan menjadi budaya dalam mengelola keuangan.

Banyak keluarga bahkan menjadikan emas sebagai  simbol nyata kekayaan dan status sosial di mata masyarakat.  

Berbeda dengan aset finansial yang memerlukan pemahaman yang lebih kompleks, seperti saham, obligasi, reksa dana, atau ETF, emas dipahami jauh lebih sederhana.

Emas adalah instrumen yang mudah dibeli dan dijual kembali, mudah disimpan, serta mudah diwariskan.

Karena itu, ketika ketidakpastian meningkat, masyarakat cenderung tidak bertanya berapa keuntungan yang bisa diperoleh dari emas, melainkan seberapa aman kekayaannya dapat dipertahankan melalui emas.

Dalam jangka panjang, masyarakat sudah berpengalaman bahwa memegang kekayaan dalam bentuk emas sudah pasti untung dan tidak akan pernah rugi.

Cara pandang masyarakat tidak seperti trader harian di bursa yang akan membaca kerugian likuiditas dalam hitungan hari. Seandainya situasi ekonomi benar-benar memburuk, harta mereka berupa emas.

Emas adalah investasi jangka panjang, bukan instrumen spekulasi

Meski emas dianggap sebagai aset yang paling menenangkan secara psikologis, penting untuk memahami bahwa kekuatan utama emas tidak terletak pada kemampuannya menghasilkan keuntungan dalam jangka pendek.

Emas lebih tepat diposisikan sebagai instrumen penyimpan nilai (store of value) dalam jangka panjang. Sejarah menunjukkan bahwa harga emas memang dapat mengalami kenaikan yang signifikan, tetapi juga dapat mengalami koreksi yang tajam dalam jangka pendek.

Bahkan setelah mencapai rekor tertinggi pada awal 2026, harga emas global mengalami penurunan yang cukup besar.  

Harga emas Antam yang sering dijadikan acuan, per hari ini, 23 Juni 2023, malah sudah terkoreksi ke level  Rp2.673.000 per gram.

Kesalahan yang sering terjadi adalah membeli emas karena takut ketinggalan momentum (fear of missing out atau FOMO).

Ketika harga sedang tinggi atau saat semua orang panik memburu emas, masyarakat sering berasumsi bahwa kenaikan tersebut akan berlanjut.

Padahal tujuan utama kepemilikan emas seharusnya bukan untuk mengejar keuntungan sesaat, melainkan untuk menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang.

Dalam perspektif perencanaan keuangan, emas lebih tepat digunakan untuk tujuan jangka panjang seperti dana pendidikan anak, persiapan pensiun, atau perlindungan kekayaan antargenerasi. Jikapun tidak dipakai sekarang, emas dapat diwariskan turun-temurun.

Jangan Semua Ditaruh di Emas: Pentingnya Diversifikasi dan Likuiditas

Ketika harga emas terus naik, muncul godaan untuk memindahkan seluruh aset ke logam mulia. Keputusan semacam ini berpotensi menimbulkan masalah baru bagi stabilitas keuangan individu.

Emas memang aman, tetapi instrumen ini tidak menghasilkan arus kas.  Ini berbeda dengan deposito yang memberikan imbal hasil, obligasi yang memberikan kupon, saham yang membagikan dividen dan capital gain, atau usaha produktif yang menghasilkan keuntungan operasional.

Emas baru memberikan keuntungan ketika dijual kembali pada harga yang lebih tinggi. Dan saat harga emas berfluktuasi, tentunya akan sulit memprediksi keuntungan dari investasi emas.

Karena itulah  prinsip diversifikasi tetap menjadi kunci utama dalam pengelolaan keuangan.

Sebagian aset dapat ditempatkan pada emas sebagai pelindung nilai, sebagian lainnya dapat ditempatkan pada instrumen yang likuid untuk kebutuhan darurat, dan sebagian lagi dapat ditempatkan pada instrumen produktif yang menghasilkan pendapatan.

Simulasinya sederhana. Tempatkan sebagian danamu di emas, sebagian lagi di deposito atau reksadana,  dan sebagian lainnya bisa  di Obligasi/Sukuk untuk return tetap.

Jika ingin imbal hasil  yang lebih tinggi,  belajarlah untuk mengambil risiko di bursa saham. Meski kondisi ekonomi Indonesia kurang menggairahkan, sektor riil masih bergerak positif dengan realisasi investasi nasional pada kuartal I 2026 mencapai hampir Rp499 triliun.  

Peluang penciptaan nilai tidak hanya ada pada emas, karena aktivitas ekonomi produktif tetap berlangsung dan membutuhkan dukungan modal.

Emas memang layak menjadi bagian dari portofolio keuangan, terutama di tengah ketidakpastian global yang tinggi.

Namun, tujuan investasi bukan hanya menjaga harta agar tetap aman, melainkan juga memastikan harta tersebut tetap produktif.

Emas dapat menjadi benteng pertahanan, tetapi fondasi finansial jangka panjang tetap dibangun melalui diversifikasi aset yang seimbang.

Dalam konteks ini, pertanyaan yang tepat bukanlah "Apakah kita harus membeli emas?", melainkan “Berapa porsi emas ideal yang harus dimiliki?" Tempatkan emas dalam proporsi yang cukup, dan sisanya tempatkan pada instrumen keuangan yang lebih produktif.  

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

F
Reporter
Ferdinan
F
Editor
Ferdinan