Sumbar

Momentum 100 tahun jam gadang dan Bukittinggi yang Mulai Berbenah

Ferdinan | 20 Juni 2026, 07:14 WIB
Momentum 100 tahun jam gadang dan Bukittinggi yang Mulai Berbenah
Faisal Hidayat, Dosen Ekonomi Kebijakan Publik, UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukititnggi

Ada yang terasa berbeda ketika melihat wajah Bukittinggi belakangan ini. Terutama di sekitar Jam Gadang, ikon yang sudah terlalu sering masuk kalender, baliho promosi wisata, foto keluarga, sampai unggahan media sosial para perantau yang pulang kampung. Kawasan ini kini tampak lebih tertata.

Seratus tahun Jam Gadang menjadi momentum yang menarik. Bukan hanya karena usia satu abad itu terdengar megah, tetapi karena ia datang pada saat Bukittinggi tampak mulai sadar bahwa kota wisata tidak cukup hanya punya ikon. Kota wisata juga harus memberi pengalaman yang menyenangkan bagi orang yang datang, berjalan, berhenti, duduk, membeli sesuatu, lalu pulang dengan kesan baik.

Selama ini Bukittinggi punya modal yang luar biasa. Alamnya cantik, udaranya sejuk, sejarahnya kuat, kulinernya hidup, dan posisinya di hati orang Minang nyaris tidak tergantikan. Tetapi kita juga tahu, Bukittinggi tidak selalu nyaman untuk dilalui. Pada musim libur, jalan bisa padat. Parkir jadi persoalan. Trotoar kadang kalah oleh kendaraan, lapak, atau arus manusia yang terlalu sesak. Orang datang untuk menikmati kota, tetapi sering kali justru lebih banyak berurusan dengan macet, klakson, dan kebingungan mencari ruang.

Ketika kawasan Jam Gadang mulai terlihat lebih rapi, jalur pedestrian mulai diperhatikan, dan tata kelola ruang publik mulai dibenahi, langkah ini patut diapresiasi. Ini bukan semata soal mempercantik kota agar enak difoto. Ini soal mengembalikan ruang kota kepada orang-orang yang hidup, singgah, dan berjalan di dalamnya.

Momentum 100 tahun jam gadang dan Bukittinggi yang Mulai Berbenah

Ada yang terasa berbeda ketika melihat wajah Bukittinggi belakangan ini. Terutama di sekitar Jam Gadang, ikon yang sudah terlalu sering masuk kalender, baliho promosi wisata, foto keluarga, hingga unggahan media sosial para perantau yang pulang kampung. Kawasan ini kini tampak lebih tertata.

Seratus tahun Jam Gadang menjadi momentum yang menarik. Bukan hanya karena usia satu abad itu terdengar megah, tetapi juga karena ia datang pada saat Bukittinggi tampak mulai sadar bahwa kota wisata tidak cukup hanya memiliki ikon. Kota wisata juga harus memberi pengalaman yang menyenangkan bagi orang yang datang, berjalan, berhenti, duduk, membeli sesuatu, lalu pulang dengan kesan yang baik.

Baca Juga: Peringatan 1 Abad Jam Gadang Tanpa APBD, Ramlan Fokus Wujudkan Kota Ramah Pejalan Kaki

Selama ini Bukittinggi punya modal yang luar biasa. Alamnya cantik, udaranya sejuk, sejarahnya kuat, kulinernya hidup, dan posisinya di hati orang Minang nyaris tak tergantikan. Tetapi kita juga tahu, Bukittinggi tidak selalu nyaman untuk dilalui. Pada musim libur, jalan bisa padat. Parkir jadi persoalan. Trotoar kadang kalah oleh kendaraan, lapak, atau arus manusia yang terlalu padat. Orang datang untuk menikmati kota, tetapi sering kali justru lebih banyak berurusan dengan kemacetan, klakson, dan kebingungan mencari tempat parkir.

Ketika kawasan Jam Gadang mulai terlihat lebih rapi, jalur pejalan kaki mulai diperhatikan, dan tata kelola ruang publik mulai dibenahi, langkah ini patut diapresiasi. Ini bukan semata soal mempercantik kota agar enak difoto. Ini soal mengembalikan ruang kota kepada orang-orang yang hidup, singgah, dan berjalan di dalamnya.

Bukittinggi, Kota Ramah Pejalan Kaki

Kota yang baik bukan hanya kota yang jalannya mulus untuk kendaraan. Kota yang baik adalah kota yang membuat orang merasa aman saat berjalan kaki. Anak-anak bisa berlari kecil tanpa terlalu cemas. Orang tua bisa duduk sebentar tanpa merasa mengganggu. Wisatawan bisa berjalan dari satu titik ke titik lain tanpa harus terus-menerus menepi karena kendaraan. Warga lokal pun tidak merasa ruang hidupnya dirampas oleh hiruk-pikuk pariwisata.

Bukittinggi sebenarnya sangat cocok menjadi kota yang ramah bagi pejalan kaki. Jarak antarobjek wisata di pusat kota tidak terlalu jauh, Ditambah, udaranya yang sejuk membuat orang lebih betah berjalan dan menikmati suasana kota. Dari Jam Gadang, orang bisa bergerak ke Pasar Atas, menyusuri kawasan pertokoan, menuju Janjang, menikmati kuliner, lalu melanjutkan perjalanan ke titik-titik sejarah. Semua itu akan jauh lebih hidup kalau jalur pedestrian benar-benar nyaman, tersambung, aman, dan tidak terasa sekadar tempelan proyek.

Membangun Bukittinggi sebagai kota ramah pejalan kaki bukan hanya soal memasang batu trotoar yang cantik. Trotoar bisa saja baru, tetapi kalau dipakai untuk parkir, fungsinya hilang. Jalur pedestrian bisa saja lebar, tetapi kalau panas, minim pohon, tidak ada tempat duduk, dan sulit dilalui penyandang disabilitas, kenyamanannya belum terasa. Kawasan bisa saja bersih saat peresmian, tetapi kalau pengelolaannya tidak konsisten, dalam beberapa bulan wajah lama bisa kembali muncul.

Maka yang paling penting dari pembenahan Bukittinggi bukan hanya pembangunan fisiknya, melainkan ketekunan dalam mengelolanya. Kota yang rapi tidak lahir dari satu proyek besar. Ia lahir dari pekerjaan kecil yang diulang setiap hari: mengatur parkir, menjaga kebersihan, menata pedagang, mengelola arus kendaraan, memperbaiki fasilitas yang rusak, serta memastikan aturan berlaku bukan hanya ketika ada acara besar.

Pedagang kaki lima, misalnya, jangan buru-buru dianggap sebagai pengganggu. Di kota wisata, mereka justru menjadi daya tarik. Orang datang ke Bukittinggi bukan hanya untuk melihat Jam Gadang, tetapi juga untuk menikmati keramaian, berinteraksi langsung dengan masyarakat Bukittinggi, membeli makanan, mendengar tawar-menawar, dan merasakan denyut nadi kota. Yang diperlukan bukan menghilangkan mereka, melainkan menatanya secara adil. Lokasinya jelas, tampilannya tertib, kebersihannya terjaga, dan akses pejalan kaki tetap tidak terganggu.

Begitu pula kendaraan. Tidak realistis membayangkan Bukittinggi sepenuhnya bebas dari kendaraan. Namun, juga tidak bijak jika pusat kota terus dibiarkan tunduk pada kendaraan pribadi. Pada jam-jam tertentu, kawasan sekitar Jam Gadang dapat dibuat lebih ramah bagi pejalan kaki. Kantong parkir perlu diperkuat. Jalur kendaraan perlu diatur lebih tegas. Transportasi penghubung dari titik parkir ke kawasan utama perlu dipikirkan dengan lebih saksama. Kalau tidak, trotoar yang bagus akan tetap kalah oleh kebiasaan lama: semua orang ingin berhenti sedekat mungkin dari tujuan.

Jam gadang dengan kearifan lokalnya

Seratus tahun Jam Gadang seharusnya juga menjadi kesempatan untuk menegaskan karakter Bukittinggi. Jangan sampai pembenahan membuat kota ini kehilangan rasa lokalnya. Banyak kota wisata hari ini berlomba untuk terlihat modern, tetapi pada akhirnya semuanya mirip satu sama lain. Bukittinggi tidak boleh jatuh ke sana. Kota ini punya sejarah, punya bahasa ruang, punya budaya pasar, punya ingatan perjuangan, dan punya kehangatan khas kota perbukitan. Kerapian perlu, tetapi jangan sampai membuat kota terasa kaku dan kehilangan nyawa.

Jam Gadang tidak boleh hanya menjadi latar belakang foto. Ia bisa menjadi pusat cerita. Di sekitarnya, pemerintah kota bisa menghidupkan ruang publik melalui agenda budaya, pameran sejarah, pertunjukan seni, festival kuliner, atau kegiatan komunitas. Wisatawan yang datang tidak sekadar berfoto selama lima menit lalu pergi. Mereka bisa tinggal lebih lama, berjalan lebih jauh, membeli lebih banyak, dan mengenal Bukittinggi lebih dekat.

Tentu pembenahan kota tidak pernah mudah. Selalu ada pihak yang merasa terganggu. Pedagang khawatir kehilangan tempat. Pengendara merasa dibatasi. Warga takut kawasan menjadi terlalu turistik. Karena itu, pemerintah kota perlu pandai berkomunikasi. Penataan tidak boleh terasa seperti perintah sepihak. Warga harus diajak bicara. Pedagang perlu diberi kepastian. Pengunjung perlu diberi informasi yang jelas. Kota yang baik dibangun bukan hanya dengan beton dan marka jalan, tetapi juga dengan rasa percaya.

Bukittinggi yang lebih rapi adalah kabar baik. Tetapi kerapian bukan tujuan akhir. Yang lebih penting adalah apakah kota ini semakin nyaman untuk ditinggali. Apakah orang merasa aman berjalan kaki. Apakah warga merasa nyaman tinggal. Apakah wisatawan ingin kembali. Apakah ruang publik benar-benar menjadi milik bersama, bukan sekadar panggung seremoni.

Jam Gadang telah berdiri selama seratus tahun sebagai penanda waktu. Kini, mungkin ia sedang mengingatkan bahwa Bukittinggi juga harus bergerak seiring waktu. Kota ini tidak boleh hanya mengandalkan nostalgia. Ia harus terus berbenah, tetapi tetap menjadi dirinya sendiri.

Kalau pembenahan ini dijaga, Bukittinggi bisa menjadi kota wisata yang tertata dan selalu dirindukan: tetap hidup dengan keramaiannya, tetapi lebih tertib; tetap kuat dengan sejarahnya, tetapi semakin nyaman dijelajahi; tidak hanya cantik di foto, tetapi juga meninggalkan kesan saat dilalui pelan-pelan dengan langkah kaki. Mari mulai mencintai Kota Bukittinggi dengan menjaga dan merawat kebersihan serta keasriannya.

 

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

F
Reporter
Ferdinan
F
Editor
Ferdinan