Sumbar

Galodo Solok, 1 Tewas dan 1 Masih Hilang, 100 Rumah Terdampak

Ferdinan | 23 September 2026, 09:43 WIB
Galodo Solok, 1 Tewas dan 1 Masih Hilang, 100 Rumah Terdampak
Pasca Galodo Solok 21 September 2026

Sumbar.akurat.co  Banjir bandang atau galodo menerjang kawasan Arosuka, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Satu warga ditemukan meninggal dunia, satu lainnya masih dalam pencarian, sementara sekitar 100 rumah dilaporkan terdampak.

Bencana terjadi di Nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, pada Senin (21/9/2026) malam setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan tersebut. Material lumpur, batu dan kayu terbawa arus hingga menerjang permukiman serta kompleks perkantoran Pemerintah Kabupaten Solok.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, berdasarkan pembaruan hingga Selasa (22/9) pukul 18.45 WIB, satu warga meninggal dunia dan satu warga masih dalam pencarian. Selain itu, satu warga mengalami luka berat dan tiga warga mengalami luka ringan.

Korban yang meninggal ditemukan oleh tim SAR gabungan di aliran Sungai Koto Gaek pada Selasa sekitar pukul 13.30 WIB. Sebelumnya, dua warga dilaporkan hilang setelah terseret arus banjir. Tim SAR kemudian melanjutkan pencarian terhadap korban lainnya dengan menyisir aliran sungai dan tumpukan material yang terbawa arus.

Operasi pencarian melibatkan ratusan personel gabungan bersama masyarakat. Hingga pembaruan yang dipublikasikan pada Rabu (23/9) dini hari, satu korban masih dinyatakan belum ditemukan.

Baca Juga: IMLA Sumbar 2026-2030 Dilantik, Mahyeldi Dorong Penguatan Bahasa Arab

100 Rumah Terdampak, Puluhan Warga Mengungsi

Dampak galodo tidak hanya terbatas pada korban jiwa. BNPB mencatat 9 kepala keluarga atau 32 jiwa mengungsi. Mereka tersebar di sejumlah lokasi sementara, termasuk di Mapolres Solok dan di Rumah Dinas Wakil Bupati Solok.

Sekitar 100 rumah juga dilaporkan terdampak. Dua kantor pemerintahan mengalami kerusakan berat, sedangkan sembilan kantor lainnya mengalami kerusakan ringan. Satu fasilitas kesehatan ikut terdampak.

Banjir juga terjadi di sebuah jembatan pada jalur utama Arosuka. Sebanyak 21 mobil dan tujuh sepeda motor tercatat terdampak, sementara kerusakan lahan pertanian masih dalam proses pendataan.

Material galodo sempat menutup akses utama Padang-Solok. Lumpur, bebatuan dan kayu yang memenuhi badan jalan membuat arus kendaraan terhenti.

Setelah dilakukan pembersihan, Kementerian Pekerjaan Umum memastikan ruas jalan nasional Padang-Solok kembali dibuka untuk umum sekitar pukul 16.00 WIB pada Selasa. Penanganan di sejumlah titik tetap dilanjutkan untuk membersihkan sisa material.

BMKG Catat Hujan 94 Mm per Hari

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat curah hujan di sekitar Solok mencapai 94 milimeter per hari. Hujan dalam kategori lebat tersebut dinilai sebagai salah satu pemicu banjir bandang.

BMKG menyatakan bahwa peringatan dini sebenarnya telah disampaikan secara bertahap sebelum bencana terjadi. Informasi diberikan melalui prakiraan tujuh harian, tiga harian, hingga peringatan skala jam atau nowcasting.

Berdasarkan analisis kejadian BMKG, Stasiun Meteorologi Minangkabau juga menyampaikan peringatan dini cuaca secara berkelanjutan pada 21 September mulai pukul 17.40 hingga 23.30 WIB.

Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan masyarakat perlu tetap meningkatkan kewaspadaan karena potensi cuaca signifikan masih dapat terjadi di sejumlah wilayah di Sumatera Barat. BMKG meminta masyarakat untuk terus mengikuti perkembangan informasi cuaca resmi.

Solok Tetapkan Tanggap Darurat 14 Hari

Pemerintah Kabupaten Solok menetapkan status tanggap darurat bencana selama 14 hari terhitung sejak 22 September 2026. Kebijakan tersebut menjadi dasar untuk mempercepat pencarian korban, pemenuhan kebutuhan warga terdampak, serta pembersihan dan pemulihan kawasan.

Bupati Solok, Jon Firman Pandu, menegaskan bahwa keselamatan warga menjadi prioritas selama penanganan bencana. Pemerintah daerah bersama unsur TNI, Polri, BPBD, SAR dan instansi terkait masih melakukan penanganan serta pendataan dampak di lapangan.

Keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama,” kata Jon dalam rapat koordinasi penanganan bencana.

Di tengah proses pemulihan, warga, terutama yang berada di sekitar aliran sungai dan daerah rawan longsor, diminta untuk meningkatkan kewaspadaan serta mengikuti arahan petugas. Pencarian terhadap satu korban yang masih hilang juga terus menjadi salah satu prioritas tim gabungan.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

F
Reporter
Ferdinan
F
Editor
Ferdinan