Sumbar

Sunnatullah Kemerdekaan: Kembali kepada Fitrah

Ferdinan | 17 Agustus 2026, 13:17 WIB
Sunnatullah Kemerdekaan: Kembali kepada Fitrah
Assoc. Prof. Dr. H. Arman Husni, Lc, MA/ Pakar Bahasa Arab -Dosen UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Sumbar.akurat.co Kemerdekaan bukan sekadar konsep politik. Ia adalah kebutuhan manusia. Manusia tidak nyaman hidup dalam tekanan, paksaan, penghinaan, dan penguasaan oleh sesama manusia. Ia memiliki kehendak, akal, hati, dan kemampuan untuk memilih. Karena itu, dorongan untuk hidup merdeka merupakan bagian dari fitrah manusia.

Bebas dari siapa dan merdeka untuk apa?

Seseorang mungkin telah terbebas dari penjajahan secara politik, tetapi belum tentu merdeka secara batin. Ia tidak lagi dijajah oleh bangsa lain, tetapi bisa saja masih diperbudak oleh kekuasaan, harta, jabatan, hawa nafsu, popularitas, atau penilaian manusia. Bahkan, manusia dapat merasa bebas ketika sebenarnya ia hanya berpindah dari satu bentuk penghambaan ke bentuk penghambaan lainnya.

Islam memberikan makna kemerdekaan yang lebih mendalam. Kemerdekaan bukan berarti hidup tanpa penghambaan, tetapi terbebas dari penghambaan kepada makhluk agar dapat kembali ke tujuan penciptaan. Manusia tidak diciptakan untuk menjadi budak bagi manusia, harta, kekuasaan, atau hawa nafsu. Ia diciptakan untuk menjadi hamba Allah SWT.

Al-Qur’an mengingatkan manusia akan fitrah penciptaannya: “Fitrah Allah yang Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. al-Rum: 30).

Fitrah itu pada hakikatnya mengarahkan manusia kepada Allah Yang Maha Kuasa, bukan kepada penghambaan kepada sesama makhluk. Karena itu, tujuan penciptaan manusia pun ditegaskan: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az_Zariyat: 56).

Maka, di sinilah letak hakikat kemerdekaan sejati dalam Islam. Manusia justru menjadi paling merdeka ketika ia menjadi hamba Allah Sang Pencipta. Semakin tunduk kepada Sang Khaliq, semakin terbebas ia dari ketundukan kepada makhluk. Semakin kuat ‘ubudiyyah-nya kepada Allah SWT, semakin lemah perbudakannya kepada dunia, kekuasaan, harta, hawa nafsu, dan penilaian manusia.

Baca Juga: Silokek Menuju UNESCO Global Geopark, Mahyeldi Tegaskan Komitmen Sumbar

Kemerdekaan sejati bukanlah ketika manusia tidak memiliki Tuhan untuk disembah, melainkan ketika ia tidak lagi mempertuhankan selain Allah SWT.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

F
Reporter
Ferdinan
F
Editor
Ferdinan