Sumbar

Kenapa Banyak Orang Indonesia Memilih Berobat ke Luar Negeri? Ini Alasannya

Annisa Paramesti | 13 Agustus 2026, 16:06 WIB
Kenapa Banyak Orang Indonesia Memilih Berobat ke Luar Negeri? Ini Alasannya
Menkes Budi Gunadi Sadikin.

Sumbar.akurat.co – Fenomena masyarakat Indonesia yang memilih mendapatkan layanan kesehatan di luar negeri kembali menjadi sorotan.

Malaysia dan Singapura menjadi dua negara yang cukup populer sebagai tujuan, meski sejumlah negara lain seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab hingga Korea Selatan juga menjadi pilihan.

Fenomena tersebut kembali ramai setelah konten kreator TikTok Fahira Almira membagikan pengalaman pemeriksaan kesehatan yang dijalaninya di Penang, Malaysia.

Dalam kontennya, Fahira mengungkap adanya perbedaan hasil pemeriksaan setelah sebelumnya mendatangi sejumlah rumah sakit di Indonesia. Ia mengaku sempat mendapat diagnosis yang mengarah pada radang usus buntu atau apendisitis dan disarankan menjalani operasi.

Namun, berdasarkan pemeriksaan lanjutan di rumah sakit di Penang, Malaysia, ia menyebut dokter memberikan kesimpulan berbeda. Perbedaan hasil pemeriksaan tersebut kemudian memicu perdebatan di media sosial.

Konten tersebut bahkan membuat Fahira mendapat tudingan dari sejumlah warganet yang menilai unggahannya sebagai bentuk black campaign terhadap layanan kesehatan di Indonesia.

Ada pula dugaan bahwa konten tersebut berkaitan dengan promosi rumah sakit di Penang.

Menkes Minta Tak Saling Menyalahkan

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin turut merespons polemik tersebut. Menurutnya, fenomena masyarakat Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri seharusnya tidak dilihat dengan cara saling menyalahkan antara pasien, dokter maupun rumah sakit.

Budi justru meminta seluruh pihak melihat persoalan tersebut sebagai bahan evaluasi terhadap pelayanan kesehatan di Indonesia.

"Kenapa itu bisa terjadi? Kita harus introspeksi diri. Jangan selalu apa-apa negatif, menyalahkan, itu energinya enggak positif. Memang, ya sudah kita perbaiki layanan kita supaya orang enggak ke sana," kata Budi yang dikutip oleh Liputan6.

Menurut Budi, keputusan masyarakat mencari layanan kesehatan di luar negeri tidak bisa semata-mata dikaitkan dengan kemampuan dokter di Indonesia.

Salah satu persoalan yang perlu menjadi perhatian adalah pemerataan fasilitas kesehatan dan ketersediaan peralatan medis berteknologi tinggi di berbagai daerah.

Dengan demikian, fenomena berobat ke luar negeri tidak hanya berkaitan dengan kualitas tenaga medis.

Faktor fasilitas, kecepatan pelayanan, akses pemeriksaan hingga kenyamanan pasien juga dapat memengaruhi keputusan seseorang ketika menentukan tempat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

Data SKI 2023 Ungkap Alasan Masyarakat Berobat ke Luar Negeri

Fenomena tersebut sebenarnya telah tercatat dalam Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dilakukan Kementerian Kesehatan.

Berdasarkan hasil utama SKI 2023, sebanyak 0,1 persen rumah tangga Indonesia pernah mengakses pelayanan kesehatan di luar negeri dalam tiga tahun terakhir.

Lima provinsi dengan proporsi rumah tangga yang paling banyak mengakses layanan kesehatan di luar negeri adalah Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Riau, Sumatera Utara dan Aceh.

Malaysia tercatat sebagai salah satu negara yang paling banyak menjadi tujuan masyarakat Indonesia untuk mendapatkan layanan kesehatan. Selain itu, Singapura, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Korea Selatan juga termasuk negara yang dituju.

Baca Juga: Ada Masalah Makan Bergizi Gratis? Guru Kini Bisa Lapor Langsung ke BGN

Menariknya, layanan yang paling banyak dimanfaatkan masyarakat Indonesia di luar negeri bukan hanya pengobatan penyakit tertentu.

Data SKI 2023 menunjukkan Medical Check Up (MCU) menjadi layanan yang paling banyak dimanfaatkan dengan persentase 65,7 persen.

Selanjutnya, layanan bedah atau operasi mencapai 19,2 persen, kesehatan reproduksi dan kesehatan ibu dan anak sebesar 7,3 persen, pengobatan kanker 5,7 persen, kesehatan tradisional 1,7 persen dan layanan lainnya 25,7 persen.

Kelengkapan Fasilitas Jadi Alasan Utama

Lantas, mengapa masyarakat memilih pergi ke luar negeri untuk mendapatkan layanan kesehatan?

Data SKI 2023 memberikan gambaran yang cukup jelas. Sebanyak 93,5 persen rumah tangga yang memanfaatkan layanan kesehatan di luar negeri menyebut kelengkapan fasilitas pelayanan kesehatan sebagai alasan.

Artinya, keputusan pasien tidak selalu berkaitan dengan anggapan bahwa dokter di luar negeri lebih baik.

Ketersediaan alat kesehatan, kemampuan rumah sakit memberikan layanan tertentu, serta kemudahan memperoleh pemeriksaan juga menjadi faktor yang dapat memengaruhi pilihan pasien.

Persoalan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia karena pemerataan fasilitas kesehatan masih menjadi pekerjaan besar.

Di sejumlah daerah, masyarakat harus mendapatkan layanan kesehatan dengan fasilitas yang lebih terbatas dibandingkan rumah sakit besar di kota-kota utama.

Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat yang memiliki kemampuan finansial memilih mencari layanan kesehatan di negara lain ketika membutuhkan pemeriksaan atau tindakan medis tertentu.

Polemik Fahira Jadi Pengingat

Kasus Fahira Almira kemudian menjadi salah satu contoh terbaru bagaimana pengalaman pasien di dalam dan luar negeri dapat memicu perdebatan mengenai pelayanan kesehatan.

Namun, perbedaan diagnosis tidak serta-merta dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa satu sistem layanan kesehatan lebih buruk dibandingkan yang lain.

Diagnosis suatu penyakit dilakukan berdasarkan kondisi klinis pasien, pemeriksaan fisik, hasil laboratorium, pencitraan dan perkembangan kondisi pasien.

Dalam kasus apendisitis, misalnya, hasil pemeriksaan tidak hanya bergantung pada ukuran apendiks. Karena itu, pengalaman individu tetap perlu ditempatkan dalam konteks medis yang tepat.

Di sisi lain, polemik tersebut dapat menjadi momentum bagi pemerintah untuk melihat bagian-bagian pelayanan kesehatan yang masih perlu diperbaiki.

Menkes Budi Gunadi sendiri menekankan pentingnya melakukan introspeksi dan memperbaiki pelayanan agar masyarakat tidak perlu mencari layanan kesehatan ke luar negeri ketika kebutuhan tersebut sebenarnya dapat dipenuhi di dalam negeri.

Perbaikan tersebut tidak hanya menyangkut kualitas dokter, tetapi juga pemerataan fasilitas, ketersediaan alat kesehatan, kecepatan pelayanan serta kemampuan rumah sakit memberikan layanan medis yang dibutuhkan masyarakat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
F
Editor
Ferdinan