Jejak Tiga Haji di Balik Gerakan Padri: Dari Pengalaman Militer hingga Revolusi Dakwah

Akurat Sumbar — Gerakan Padri merupakan salah satu fase sejarah paling monumental di ranah Minangkabau, Sumatera Barat.
Pergerakan yang berawal dari dorongan purifikasi ajaran Islam ini rupanya tidak lepas dari peran krusial tiga sosok ulama yang baru pulang dari Timur Tengah pada tahun 1803.
Jauh sebelum meletusnya perang, dakwah Islam di Minangkabau sejatinya berjalan melalui proses yang bertahap dan persuasif.
Langkah awal ini dimotori oleh Syekh Tuanku nan Tuo pada tahun 1784 M.
Berbekal ilmu dari Syekh Burhanuddin Ulakan, ia bersama muridnya, Jalaluddin, menggaungkan slogan "kembali ke syariat" untuk menyadarkan masyarakat yang mulai terlena oleh peningkatan ekonomi.
Namun, pendekatan lembut ini dinilai kurang efektif oleh murid lainnya, Tuanku nan Renceh.
Ia memandang perlunya tindakan yang lebih progresif dan tegas untuk memberantas kebiasaan maksiat yang masih mengakar kuat di tengah masyarakat.
Kembalinya Tiga Haji Mantan Tentara
Momentum perubahan drastis dalam pergerakan Islam di Minangkabau terjadi saat tiga orang haji pulang setelah 15 tahun merantau menimba ilmu.
Mereka adalah Haji Miskin dari Luhak Agam, Haji Sumanik dari Luhak Tanah Datar, dan Haji Piobang dari Luhak Limo Puluh Koto.
Ketiganya bukan sekadar ulama biasa. Mereka merupakan mantan tentara Dinasti Turki Utsmani yang pernah bertempur melawan pasukan Napoleon di Mesir.
Pemahaman agama mereka juga banyak dipengaruhi oleh gerakan pemurnian Islam di Jazirah Arab kala itu.
Insiden Pandai Sikek dan Lahirnya Harimau nan Salapan
Sekembalinya ke kampung halaman di Pandai Sikek, Haji Miskin langsung berhadapan dengan praktik perjudian, mabuk-mabukan, dan sabung ayam di balai adat.
Lantaran dakwah persuasifnya tak digubris, ia mengambil langkah radikal dengan membakar balai adat tersebut di malam hari.
Insiden itu membuatnya diburu masyarakat adat, hingga ia harus melarikan diri ke kawasan Kamang.
Di sanalah ia bertemu dengan Tuanku Nan Renceh yang telah lama mengaguminya.
Pertemuan dua tokoh ini membuahkan pergerakan masif yang terstruktur melalui pembentukan dewan ulama yang dikenal sebagai "Harimau nan Salapan".
Gerakan ini perlahan menguasai berbagai daerah, mengubah struktur sosial masyarakat, dan menetapkan aturan-aturan baru berlandaskan syariat Islam.
Penolakan Kaum Adat dan Taktik Belanda
Di Luhak Tanah Datar, Haji Sumanik menghadapi tantangan yang berbeda. Ia mendapat perlawanan keras dari keluarga Kerajaan Pagaruyung dan para penghulu adat.
Menghadapi jalan buntu, Haji Sumanik akhirnya menyingkir ke Lintau, di mana ia tidak hanya berdakwah tetapi juga mengajarkan masyarakat cara mengolah mesiu.
Sementara itu, Haji Piobang yang merupakan perwira didikan Jenderal Muhammad Ali Pasha memilih mendirikan surau di Gando.
Ia menerapkan aturan disiplin beribadah, termasuk mewajibkan salat lima waktu dengan menggantungkan sajadah di jendela sebagai penanda ketaatan.
Ketegasan Haji Piobang ini memicu gosip dan kebencian dari kelompok penentang.
Situasi ini dimanfaatkan oleh Belanda yang merasa terancam dengan kehadiran sang mantan perwira tersebut.
Belanda menyebar sayembara berhadiah besar bagi siapa pun yang berhasil menyingkirkannya. Tragisnya, Haji Piobang akhirnya gugur di tangan kaum adat.
Lehernya dipancung saat ia sedang mengambil air wudu untuk menunaikan salat Subuh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





