Sumbar

Kemerdekaan dalam Bahasa Wahyu: Dari Pembebasan Menuju Peradaban

Ferdinan | 5 Agustus 2026, 16:15 WIB
Kemerdekaan dalam Bahasa Wahyu: Dari Pembebasan Menuju Peradaban
Assoc. Prof. Dr. H. Arman Husni/ Pakar Bahasa Arab -Dosen UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Sumbar.akurat.co Pada 17 Agustus 2026, Indonesia genap berusia 81 tahun. Usia yang cukup panjang untuk merayakan keberhasilan, tetapi juga cukup matang untuk mengajukan pertanyaan: sesungguhnya kita merdeka dari apa dan merdeka untuk apa?

Setiap Agustus, Merah Putih berkibar di jalan, halaman rumah, sekolah, kampus, dan kantor pemerintahan. Upacara digelar dengan khidmat. Berbagai perlombaan menghidupkan suasana di kampung dan perkotaan. Semua itu patut dijaga sebagai cara untuk merawat ingatan akan perjuangan para pendiri bangsa.

Namun, kemerdekaan mudah berhenti sebagai pesta tahunan. Ia ramai dalam seremoni, tetapi sepi dalam perenungan.

Jika kemerdekaan hanya berarti bebas dari penjajahan kolonial, mengapa korupsi masih menggerogoti kepercayaan publik? Mengapa kemiskinan, rendahnya budaya literasi, kerusakan lingkungan, penyalahgunaan teknologi, disinformasi, dan krisis keteladanan terus menjadi persoalan?

Pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk merendahkan capaian bangsa. Justru sebaliknya, pertanyaan itu diperlukan agar kemerdekaan tidak kehilangan arah. Proklamasi memang mengakhiri kekuasaan kolonial, tetapi tidak otomatis menghapus seluruh bentuk penindasan yang merendahkan manusia.

Baca Juga: 5 Jurnal Raih Akreditasi Baru, UIN Bukittinggi Kini Punya 7 Jurnal Sinta 2

Kemerdekaan karena itu tidak cukup dipahami sebagai peristiwa politik. Ia harus dibaca sebagai proses panjang: membebaskan manusia, membangun kehidupan, memperbaiki kerusakan, dan menjalankan tanggung jawab terhadap bumi.

Di titik inilah bahasa wahyu menawarkan sudut pandang yang menarik.

Empat pesan dalam bahasa wahyu

Al-Qur’an tidak menggunakan istilah khusus yang secara teknis berarti “kemerdekaan negara” sebagaimana dikenal dalam ilmu politik modern. Namun, kosakata Al-Qur’an menyediakan arah moral untuk memahami tujuan kebebasan.

Arah tersebut dapat dibaca melalui empat konsep: taḥrīr atau pembebasan, ta’mīr atau pemakmuran, iṣlāḥ atau perbaikan, dan khilāfah sebagai amanah mengelola bumi.

Keempatnya bukan formula baku yang disebut secara berurutan dalam satu ayat. Ia merupakan kerangka untuk membaca pesan Al-Qur’an mengenai manusia dan tanggung jawabnya. Kebebasan tidak ditempatkan sebagai tujuan terakhir. Kebebasan membuka jalan agar manusia dapat berkarya dan menghadirkan kemaslahatan.

Taḥrīr: ketika penjajah telah pergi

Kata taḥrīr berasal dari akar kata ḥ-r-r. Maknanya berkaitan dengan kebebasan, kemerdekaan, dan pembebasan seseorang dari belenggu.

Al-Qur’an menggunakan ungkapan taḥrīr raqabah, yaitu membebaskan seorang budak, yang antara lain terdapat dalam Surah al-Mā’idah ayat 89 dan Surah al-Mujādilah ayat 3. Pilihan kata tersebut menunjukkan bahwa kebebasan dalam Islam bukan gagasan yang hanya berhenti di ruang pemikiran. Kebebasan diwujudkan melalui tindakan nyata yang mengangkat martabat manusia.

Misi pembebasan itu kemudian memiliki cakupan yang lebih luas. Manusia harus dibebaskan dari kebodohan, kemusyrikan, ketidakadilan, kemiskinan, hawa nafsu, dan berbagai kondisi yang membuatnya kehilangan kehormatan.

Proklamasi 17 Agustus 1945 merupakan taḥrīr bangsa Indonesia dari kolonialisme. Bangsa ini berhasil merebut hak untuk menentukan nasibnya sendiri. Namun, berakhirnya penjajahan fisik tidak berarti seluruh pekerjaan pembebasan telah selesai.

Penjajahan pada masa kini sering muncul dalam bentuk yang lebih halus. Ia dapat tumbuh melalui ketergantungan, budaya konsumtif, rusaknya integritas, penyalahgunaan kekuasaan, kecanduan teknologi, serta kebiasaan mengabaikan kebenaran demi kepentingan sesaat.

Seseorang mungkin bebas secara hukum, tetapi tetap diperbudak oleh keserakahan. Sebuah bangsa mungkin berdaulat secara politik, tetapi lemah dalam ilmu pengetahuan dan kehilangan keberanian menentukan masa depannya.

Kemerdekaan sejati menuntut bangsa ini untuk terus membebaskan diri dari semua belenggu tersebut.

Ta’mīr: kebebasan harus menghasilkan karya

Setelah manusia dibebaskan, ruang yang terbuka tidak boleh dibiarkan kosong. Kebebasan harus diisi dengan kerja, ilmu, dan karya. Di sinilah konsep ta’mīr menemukan maknanya.

Ta’mīr berasal dari akar kata ʿa-m-r, yang berkaitan dengan membangun, menghidupkan, dan memakmurkan. Dalam Surah Hūd ayat 61, Allah menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari bumi dan diberi tugas untuk memakmurkannya.

Kata wasta’marakum fīhā dalam ayat tersebut memuat mandat. Manusia tidak hanya diizinkan tinggal di bumi, tetapi juga diminta mengelolanya agar kehidupan dapat berkembang dan membawa kebaikan.

Bagi bangsa yang merdeka, mandat itu memiliki konsekuensi yang jelas. Kemerdekaan harus melahirkan pendidikan bermutu, penguasaan ilmu pengetahuan, inovasi teknologi, ekonomi yang adil, pemerintahan yang bersih, serta pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab.

Bangsa yang hanya bangga pada kemerdekaannya, tetapi gagal menghasilkan karya, akan terus hidup dalam bayang-bayang bangsa lain. Benderanya boleh berkibar, tetapi keputusan penting mengenai ekonomi, teknologi, dan pengetahuan ditentukan oleh pihak lain.

Karena itu, ukuran kemerdekaan tidak cukup dilihat dari lamanya usia republik. Kemerdekaan juga harus diukur dari kemampuan bangsa untuk mencerdaskan rakyat, melindungi kelompok yang lemah, serta menciptakan kehidupan yang layak bagi generasi berikutnya.

Iṣlāḥ: tidak semua kemajuan membawa kebaikan

Pembangunan diperlukan, tetapi pembangunan tidak selalu berakhir dengan kemaslahatan.

Teknologi dapat mempermudah komunikasi, tetapi juga dapat digunakan untuk menyebarkan fitnah dan kebencian. Pertumbuhan ekonomi dapat membuka lapangan kerja, tetapi juga dapat memperlebar kesenjangan. Pembangunan fisik mungkin terlihat megah, tetapi dapat menimbulkan kerusakan lingkungan dan konflik sosial.

Al-Qur’an karena itu mengenalkan konsep iṣlāḥ. Kata ini berasal dari akar ṣ-l-ḥ, yang bermakna memperbaiki, mendamaikan, dan mengembalikan sesuatu ke keadaan yang baik.

Lawan dari iṣlāḥ adalah fasād, yaitu kerusakan. Al-Qur’an berulang kali mengingatkan manusia agar tidak membuat kerusakan di bumi setelah keadaan telah diperbaiki.

Pesannya jelas. Pembangunan tidak boleh hanya dinilai dari banyaknya gedung, panjangnya jalan, tingginya angka pertumbuhan, atau cepatnya perkembangan teknologi. Pembangunan harus diuji dampaknya terhadap manusia dan lingkungan.

Apakah pembangunan membuat kehidupan lebih adil? Apakah masyarakat kecil ikut menikmati hasilnya? Apakah kemajuan teknologi memperkuat pengetahuan atau justru mempercepat penyebaran kebohongan? Apakah sumber daya alam dikelola untuk kesejahteraan bersama atau hanya untuk keuntungan segelintir orang?

Pertanyaan semacam ini penting karena kemajuan tanpa iṣlāḥ dapat berubah menjadi kerusakan yang dibungkus dengan keberhasilan.

Khilāfah sebagai tanggung jawab

Puncak kebebasan dan pembangunan adalah kesadaran bahwa manusia memikul amanah.

Allah berfirman dalam Surah al-Baqarah ayat 30, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.”

Konsep khalifah sering disempitkan menjadi pembahasan tentang jabatan dan kekuasaan politik. Padahal, ayat tersebut juga mengandung pesan tentang tanggung jawab manusia dalam mengelola kehidupan.

Kekuasaan bukan hak untuk bertindak sewenang-wenang. Kekuasaan adalah beban yang harus dipertanggungjawabkan. Ilmu bukan alat untuk merasa lebih tinggi, melainkan jalan untuk memberi manfaat. Kekayaan bukan alasan untuk menguasai yang lemah, melainkan sarana untuk memperluas kesejahteraan.

Semakin besar kebebasan yang dimiliki seseorang, semakin besar pula tanggung jawab yang harus ia tunaikan. Hal yang sama berlaku bagi sebuah bangsa.

Negara yang merdeka bertanggung jawab untuk memastikan kemerdekaan dapat dirasakan oleh seluruh rakyat. Jangan sampai kemerdekaan hanya dinikmati oleh mereka yang memiliki kekuasaan, modal, dan akses terhadap pendidikan, sedangkan masyarakat lainnya tetap terbelenggu oleh kemiskinan dan ketidakadilan.

Amanah memakmurkan bumi juga menuntut manusia untuk menjaga alam. Kekayaan alam tidak boleh diperlakukan sebagai barang rampasan yang dapat dihabiskan dalam satu generasi. Bumi harus diwariskan dalam keadaan tetap layak dihuni.

Menyambut Indonesia Emas 2045

Indonesia Emas 2045 kerap dibicarakan melalui angka pertumbuhan ekonomi, kemajuan teknologi, kekuatan industri, dan pembangunan infrastruktur. Semua itu penting. Namun, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan membangun mesin, gedung, dan jaringan digital.

Masa depan Indonesia bergantung pada manusia yang mengendalikan seluruh kemajuan tersebut.

Teknologi yang canggih tidak banyak berarti apabila berada di tangan manusia yang kehilangan integritas. Ekonomi yang tumbuh juga tidak cukup jika hasilnya tidak dirasakan secara adil. Pendidikan tinggi akan kehilangan makna apabila tidak melahirkan keberanian untuk membela kebenaran.

Kerangka bahasa wahyu memberikan arah yang lebih utuh. Taḥrīr mengajarkan bangsa ini untuk terus membebaskan manusia dari berbagai bentuk penindasan. Ta’mīr menuntut kemerdekaan yang diisi dengan kerja dan karya. Iṣlāḥ memastikan pembangunan tidak menyimpang menjadi kerusakan. Sementara itu, khilāfah mengingatkan bahwa semua kebebasan tersebut merupakan amanah.

Empat pesan itu dapat menjadi fondasi moral menuju Indonesia Emas 2045. Indonesia yang maju tidak cukup hanya memiliki ekonomi yang kuat. Indonesia juga membutuhkan warga yang berilmu, jujur, berakhlak, serta berani memikul tanggung jawab.

Kemerdekaan dimulai setelah upacara selesai

Upacara tetap penting. Bendera tetap harus dikibarkan. Lagu kebangsaan tetap perlu dinyanyikan dengan penuh hormat. Berbagai perayaan rakyat pun layak dipertahankan sebagai ungkapan rasa syukur.

Namun, kualitas kemerdekaan justru terlihat setelah upacara selesai dan bendera kembali diturunkan.

Kemerdekaan diuji ketika seorang pejabat menghadapi peluang untuk melakukan korupsi. Ia diuji ketika warga menerima informasi yang kebenarannya belum pasti. Ia juga diuji ketika manusia harus memilih antara keuntungan cepat dan kelestarian lingkungan.

Bahasa wahyu mengajarkan bahwa kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajahan. Kemerdekaan adalah kebebasan untuk berbuat baik, menghasilkan karya, memperbaiki kehidupan, dan menjaga amanah.

Dari taḥrīr lahir pembebasan. Melalui ta’mīr, kebebasan diubah menjadi pembangunan. Dengan iṣlāḥ, pembangunan diarahkan agar membawa kebaikan. Seluruhnya bermuara pada amanah manusia untuk memakmurkan bumi.

Jika semangat Proklamasi dipertemukan dengan pesan tersebut, kemerdekaan tidak akan berhenti menjadi sekadar kenangan sejarah. Ia menjadi tenaga moral untuk membangun Indonesia yang adil, berilmu, sejahtera, dan bermartabat.

Sebab, kemerdekaan bukan akhir perjuangan. Kemerdekaan adalah awal pengabdian.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

F
Reporter
Ferdinan
F
Editor
Ferdinan