Mental Petarung dalam Memimpin Nagari Menuju Generasi Emas Indonesia 2045

Memimpin nagari hari ini tidak lagi cukup hanya dengan menjalankan administrasi pemerintahan. Zaman telah berubah, tantangan semakin kompleks, dan harapan masyarakat terus bergerak. Wali Nagari bersama perangkat nagari, ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, pemuda, perantau, dan seluruh elemen masyarakat dituntut menjadi nahkoda perubahan. Nagari tidak boleh hanya berjalan mengikuti rutinitas, tetapi harus bergerak maju dengan arah yang jelas, tata kelola yang baik, dan keberanian menghadapi zaman.
Mental petarung penting dalam kepemimpinan nagari. Mental petarung bukan berarti suka berkonflik atau keras terhadap sesama. Mental petarung adalah keberanian moral untuk menghadapi masalah, keteguhan dalam mengambil keputusan, kejernihan dalam mengelola perbedaan, dan semangat untuk terus berinovasi demi kemajuan masyarakat. Pemimpin bermental petarung tidak mudah menyerah oleh keterbatasan, tidak kehilangan arah saat dikritik, dan tidak gamang ketika perubahan datang begitu cepat.
Nagari di Sumatera Barat, termasuk di Kabupaten Padang Pariaman, memiliki modal sosial dan budaya yang sangat kuat. Ada semangat gotong royong, musyawarah, peran tokoh adat, kekuatan surau, hubungan rantau dan ranah, serta falsafah adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Semua ini merupakan fondasi penting dalam membangun pemerintahan nagari yang tidak hanya maju secara fisik, tetapi juga kuat secara nilai. Tantangannya adalah bagaimana nilai-nilai luhur itu tidak berhenti sebagai ungkapan seremonial, melainkan hidup dalam kebijakan, pelayanan, dan tindakan nyata.
Pemimpin nagari bermental petarung setidaknya memiliki lima karakter utama.
Pertama, berani menghadapi tantangan. Nagari hari ini berhadapan dengan banyak persoalan: keterbatasan anggaran, perubahan regulasi, kemiskinan, pengangguran, masalah sosial, ketahanan pangan, rendahnya literasi digital, hingga tuntutan pelayanan publik yang semakin cepat dan transparan. Semua persoalan itu tidak bisa dijawab dengan keluhan. Dibutuhkan keberanian untuk memetakan masalah, menyusun prioritas, menggerakkan sumber daya, dan mencari solusi bersama.
Kedua, pantang menyerah. Tidak semua program nagari akan langsung berhasil. Ada kegiatan yang tertunda, ada kebijakan yang belum sempurna, ada pula gagasan yang harus diperbaiki setelah mendapat masukan masyarakat. Namun kegagalan bukan alasan untuk berhenti. Pemimpin yang tangguh menjadikan hambatan sebagai pelajaran, kritik sebagai cermin, dan keterbatasan sebagai pemantik kreativitas. Ia tidak sibuk mencari siapa yang salah, tetapi fokus mencari jalan keluar.
Baca Juga: Gubernur Lemhannas Tegaskan Pemimpin Nasional Harus Berintegritas
Ketiga, adaptif terhadap perubahan. Era digital menuntut nagari untuk berubah. Pelayanan publik tidak boleh lambat, informasi pembangunan harus terbuka, dan komunikasi dengan masyarakat harus semakin mudah. Pemerintah nagari perlu memanfaatkan teknologi untuk pendataan, pelayanan administrasi, promosi potensi lokal, penguatan UMKM, serta penyebaran informasi yang benar. Media sosial, misalnya, dapat menjadi ruang komunikasi yang sehat apabila dikelola secara bijak, bukan sekadar tempat saling menyalahkan.
Keempat, berintegritas tinggi. Kepercayaan masyarakat adalah modal terbesar dalam kepemimpinan nagari. Tanpa integritas, pembangunan kehilangan ruh. Tanpa transparansi, program akan mudah dicurigai. Tanpa akuntabilitas, jabatan akan kehilangan wibawa. Karena itu, pemimpin nagari harus menjaga amanah, membuka ruang partisipasi, mengelola anggaran dengan jujur, dan berani mengambil keputusan yang berpihak kepada kepentingan masyarakat luas.
Kelima, mampu berkolaborasi. Pembangunan nagari tidak mungkin dikerjakan oleh pemerintah nagari sendiri. Perlu sinergi dengan tokoh adat, tokoh agama, kelompok perempuan, pemuda, pelaku UMKM, sekolah, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi sosial, dan perantau. Kolaborasi adalah cara baru untuk memperkuat gotong royong. Dengan kolaborasi, keterbatasan bisa ditutupi, gagasan bisa diperluas, dan pembangunan menjadi milik bersama.
Menuju Indonesia Emas 2045, nagari harus ditempatkan sebagai fondasi pembangunan nasional. Indonesia yang maju tidak akan kokoh jika desa dan nagarinya tertinggal. Karena itu, agenda pembangunan nagari perlu diarahkan pada pembentukan generasi muda yang berkarakter, berilmu, sehat, produktif, dan berdaya saing. Anak-anak muda nagari harus disiapkan bukan hanya untuk menjadi penonton perubahan, tetapi menjadi pelaku utama perubahan.
Ada beberapa agenda penting yang perlu mendapat perhatian. Pertama, penguatan pendidikan karakter agar generasi muda tetap berakar pada adat, agama, dan etika sosial. Kedua, pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal, seperti pertanian, perikanan, kuliner, pariwisata, kerajinan, dan ekonomi kreatif. Ketiga, ketahanan pangan nagari agar masyarakat lebih mandiri menghadapi perubahan ekonomi. Keempat, literasi digital agar warga mampu menggunakan teknologi secara produktif. Kelima, pemberdayaan UMKM agar ekonomi keluarga semakin kuat. Keenam, pelestarian adat dan budaya Minangkabau sebagai identitas sekaligus modal pembangunan. Ketujuh, tata kelola pemerintahan yang transparan, partisipatif, dan inovatif.
Filosofi mental petarung nagari sesungguhnya sederhana: bukan seberapa besar masalah yang datang, tetapi seberapa besar keberanian kita menghadapinya. Bukan seberapa cepat perubahan terjadi, tetapi seberapa siap kita memimpin perubahan itu. Pemimpin nagari yang memiliki mental petarung akan menjadikan nagarinya maju dalam pembangunan, kuat dalam ekonomi, cerdas dalam pendidikan, sehat dalam kehidupan sosial, serta kokoh dalam adat dan budaya.
Nagari yang hebat lahir dari pemimpin yang tangguh. Pemimpin yang tangguh lahir dari hati yang ikhlas, pikiran yang terbuka, integritas yang terjaga, dan keberanian untuk terus berbuat baik meskipun jalan tidak selalu mudah. Jika hari ini pemimpin dan masyarakat berani bergandengan tangan membangun nagari, maka kelak anak cucu akan menikmati hasilnya sebagai generasi emas yang membanggakan.
Masa depan terletak dalam pendidikan desa/ nagari: dari surau, sawah, balai adat, sekolah, rumah warga, dan ruang musyawarah masyarakat. Dari sanalah karakter bangsa tumbuh. Dari sanalah Indonesia Emas 2045 menemukan akar kekuatannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





