Film pesta babi, wujud kerusakan ekologi dan pemikiran manusia

Sebagai sebuah media, film punya fungsi ‘to inform, to educate, dan to entertain’.
Sebagai medium ekspresi, film dokumenter dapat digunakan lebih dari fungsinya sebagai media, yaitu menjadi instrumen kritik dan kontrol sosial.
Film dokumenter Pesta Babi besutan Dandhy Laksono hampir sepenuhnya menjalankan fungsi-fungsi itu, kecuali fungsi to entertain.
Tak mungkin ada orang normal yang terhibur melihat apa yang divisualisasikan dalam film itu.
Alih-alih terhibur, penonton justru akan menangis, sebal, dongkol, jijik, bahkan murka melihat alam dirusak – dengan alasan apapun – dan penduduk asli yang menggantungkan hidup pada hutan harus hidup sengsara.
Hewan-hewan endemik Papua pun seperti burung kasuari, cendrawasih, mambruk, kakatua dan hewan lain seperti labi-labi moncong babi, biawak pohon, kukus kini harus menerima kenyataan pahit karena rumah mereka sudah dimusnahkan.
Film itu nyaris sempurna memvisualisasikan kerusakan ekologis yang tak mungkin dipulihkan sebagaimana aslinya.
Namun kerusakan ekologis itu tidak haknya menjelaskan kerusakan alam Papua, tapi juga kerusakan ekologi pikiran manusia yang wujud dalam keserakahan dan ambisi yang menerabas apapun yang menghalanginya.
Baca Juga: Sapi Kurban Andre Rosiade untuk korban Bencana dan Galodo Sumbar
Membangun industri pertanian atau industri apapun yang merusak lingkungan sudah terjadi sejak berabad lampau di negara yang sekarang disebut negara industri maju.
Demi pabrik-pabrik raksasa hutan dihancurkan, air dicemari, bahkan penduduk yang sudah tinggal di wilayah itu sekian generasi harus pergi, bahkan dibunuh.
Sekarang konsep pembangunan industri seperti itu sudah dianggap primitif.
Akibat kerusakan lingkungan yang mereka rasakan bersifat nyata, bukan sekadar omon-omon. Mengembalikan suasana lingkungan seasri sebelumnya bukan perkara gampang, murah dan cepat.
Perlu dana yang luar biasa besar dan waktu yang panjang dengan proyeksi keberhasilan tipis.
Siapa pun yang telah mengorbankan alam Papua demi ambisi dan keserakahan mungkin tidak akan pernah menyesal sebab mereka tidak akan merasakan akibatnya.
Mereka berada di tempat yang jauh, bersantai sambil menikmati keuntungan di atas kerusakan dan penderitaan orang lain.
Bahkan mungkin tidak peduli apa yang mereka lakukan itu kita katakan sebagai tindakan manusia primitif karena keuntungan sudah di pelupuk mata.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





