Bincang Rancak Bahas Peran Ulama dan Tarekat dalam Politik Sumatera Barat

Sumbar.akurat.co - Diskusi publik bertajuk “Bincang Rancak: Orang Tarekat di Kancah Politik” yang digelar Rancak Publik bersama Pustaka STEVA pada Rabu malam (20/5/2026), menghadirkan perbincangan mendalam mengenai relasi antara agama, tarekat, dan politik, khususnya dalam konteks Sumatera Barat.
Pembahasan kemudian mengerucut pada peran ulama dalam dinamika politik lokal di daerah tersebut.
Bertempat di Pustaka STEVA, diskusi ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Dr. Sadri, M.Soc.Sc., Dosen Ilmu Politik Universitas Andalas; Firdaus, S.HI., anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat; serta Tanti Endang Lestari, S.IP., M.Si., C.Med., Koordinator Presidium Koalisi Perempuan Indonesia Sumbar sekaligus anggota BKOW Sumbar.
Dalam diskusi tersebut, Dr. Sadri menjelaskan bahwa keterlibatan agama dalam politik di Sumatera Barat tidak hanya hadir melalui institusi formal, tetapi juga melalui ruang-ruang sosial keagamaan yang dekat dengan masyarakat.
Salah satunya melalui pengajian, surau, pesantren, dan jaringan keulamaan yang selama ini memiliki pengaruh kuat dalam kehidupan sosial masyarakat.
Baca Juga: Harga Emas Hari Ini di Sumatera Barat, 21 Mei 2026: UBS dan Antam Tembus Rp2,8 Juta per Gram
“Cara politiknya melalui pengajian,” ujar Sadri, menyoroti bagaimana ruang keagamaan kerap menjadi medium penyampaian pesan-pesan politik.
Menurutnya, pengaruh tersebut bukan hanya soal agama sebagai keyakinan, melainkan juga berkaitan dengan proses sosial yang berlangsung di masyarakat.
Sadri juga menyinggung bagaimana sentimen keagamaan kerap dimanfaatkan dalam kontestasi elektoral.
Ia menyebut, dalam sejumlah praktik politik, pilihan politik sering kali dibingkai seolah-olah memiliki konsekuensi moral dan spiritual tertentu.
“Sentimen keagamaan dimainkan, sampai seolah-olah memilih itu seperti mau masuk surga,” ungkapnya.
Karena itu, menurut Sadri, tidak jarang kandidat politik mendekati ulama, atau tokoh agama untuk memperoleh dukungan simbolik.
“Biasanya kalau mau mencalonkan diri, kandidat akan datang ke pondok pesantren. Nanti muncul deklarasi dari ulama,” tambahnya.
Sementara itu, Firdaus menekankan bahwa hubungan antara politik dan tarekat tidak dapat dilepaskan dari cara pandang keagamaan yang melihat politik sebagai bagian dari pengabdian.
Menurutnya, politik tidak semestinya hanya dimaknai sebagai perebutan kekuasaan, tetapi juga sebagai jalan untuk menghadirkan kemaslahatan.
“Berpolitik itu adalah ibadah. Apa pun aktivitas politik itu adalah perjalanan, bukan semata soal kekuasaan,” ujar Firdaus.
Ia juga menilai ulama masih memiliki pengaruh besar dalam menentukan pilihan politik masyarakat. Menurutnya, ulama tetap menjadi figur yang didengar, terutama di tengah masyarakat yang masih memiliki ikatan kuat dengan tradisi keagamaan.
“Saya masih sangat meyakini ulama itu berpengaruh terhadap pilihan politik, karena ulama masih didengar oleh masyarakat,” katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prediksi Skor Leeds United vs Newcastle United: Head to Head, Susunan Pemain, dan Kunci Pertandingan
- 2Profil dan Biodata Suahasil Nazara, Sosok Menkeu Baru Pengganti Purbaya Yudhi Sadewa
- 3Perkuat Kompetensi Pendidik, BGTK Sumbar Gelar TOT Kesiapsiagaan Bencana dan Layanan Dukungan Psikososial
- 4Prediksi Skor Alaves vs Valencia di LaLiga 2026/2027: Duel Dua Tim dengan Nasib Berbeda
- 5Prediksi Skor Elche vs Real Madrid di LaLiga: Head to Head, Susunan Pemain, dan Kunci Pertandingan
- 6Doa dari Ranah Minang, Insan Pers Sumbar Gelar Solidaritas untuk 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda
- 7Update Klasemen Liga 2: Semen Padang FC Tetap di Posisi Ketiga Usai Sanksi Pengurangan Poin
- 8Apple Watch, Galaxy Watch, Garmin atau Huawei: Pelajari Sebelum Dibeli
- 9Prediksi Skor Elche vs Real Madrid di LaLiga: Head to Head, Susunan Pemain, dan Kunci Pertandingan




